Dimana Kami Harus Bicara

Dimana Kami Harus Bicara ???, Mungkin pertayaan seperti itu saat ini terpikir oleh jutaan otak manusia di Indonesia, terkait kasus Prita yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan bahkan sampai mengundang ribuan dukungan dari semua kalangan masyarakat tak terkecuali orang nomor satu & dua di Indonesia.

Namun kali ini kita tidak lagi membahasnya, biarlah itu menjadi asumsi publik. Ketika orang berkata sebuah keberaan namun mereka harus terancam bahkan mendekam dibalik trali besi, akan menimbulkan tekanan psikologis buat siapapun yang ingin mengungkapkan sebuah fakta apa lagi yang meraka hadapi adalah seseorang yang mempunyai kekuasan dan harta.

Rasulullah saw juga pernah menyampaikan, bahwa yang paling beliau khawatirkan menimpa umat Islam adalah munculnya orang-orang munafik yang pandai berargumen atau bersilat lidah dan mereka termasuk golongan al-maghdhub yang disebutkan dalam surat Al-Fatihah adalah siapa saja yang sudah mengetahui kebenaran, tetapi enggan mengikuti kebenaran dan bahkan mengubah-ubah dan menyembunyikan kebenaran. Karena itulah, kita diperintahkan untuk berdoa, agar jangan sekali-kali kita termasuk ke dalam golongan seperti ini.

Padahal dalam Undang-Undang Nomor: 9 Tahun 1998 (9/1998) tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat tersirat jelas lihat KLIK namun kenapa kami/masyarakat kian sulit untuk terbuka.

Kita sebagai masyarakat yang berdarah muslim mempunyai tahap demi tahap apa yang harus dilakukannya KLIK.

Read More..

Melihat Kemungkaran

Ada sebagian dari teman kita bertanya pada saya, Apabila kita melihat penguasa berbuat kemungkaran, harus bagaimanakah sikap kita sebagai masyarakat ?

Harus kita akui memang, ada beberapa pemimpin kita kerap kita lihat keluar-masuk peradilan dunia dengan sebab-sebab yang berbeda-beda. Sesungguhnya mereka juga hanyalah manusia biasa yang tak luput dari sebuah dosa, mereka pun punya hawa nafsu seperti kita, terus bagaimana sikap kita kalau kita melihat kemungkaran itu terjadi didepan mata kita ? baik itu dilakukan penguasa-penguasa kita ataupun manusia dalam konteks lebih luas. Rasulullah bersabda :


"Dari abu Said al-Khudri, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah bresabda, "Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) kengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya(merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman". (HR Muslim)

Jelas Rasulullah dengan sabdanya, mengajarkan kita bagaimana sikap atau perilaku disaat kita melihat kemungkarang terjadi dihadapan mata kita. Dalam hadist ini juga menunjukkan bahwa imana berbeda-beda tingkatannya, sebagiannya ada yang lemah dan sebagiannya ada yang kuat. Ini menurut pendapat Ahlus Sunnah wal Jama'ah, mereka memiliki dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, bahwa iman itu berbeda-beda tingkatannya.
Namun kita tidak perlu risau tentang kemungkaran mereka (para penguasa kita) karena banyak yang berhasil menipu daya kita sebagai seorang rakyat, banyak yang akhirnya lolos dari tuduhan yang sebenarnya memang benar-benar mereka lakukan, tidak sedikit juga yang tidak diketahui oleh badan-badan yang terkait tentang kemungkaran namun apa yang mereka lakukan itu akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang mereka pimpin dan tak sedikitpun kebaikan atau keburukan yang akan terlewat dari pengadilan-Nya sebagaimana sabda Rasulullah :

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.


Dari hadist tersebut kita tangkap bahwa setia manusia itu pemimpin dan akan dipertanggung jawabkan apa yang mereka telah pimpin.
Semoga kita semua menjadi pemimpin-pemimpin yang baik, pemimpin-pemimpin yang hidup dalam dekapan-Nya, pemimpin-pemimpin yang adil bagi setiap apa-apa yang kita pimpin.

AMIN-AMIN YA ROBBAL ALAMIN.. !!

Wallahu Alam..

Read More..

Dampak Buruk Dusta


Jauhilah Dusta, karena dusta merusak hakikat yang sebenarnya atas dirimu dan akan merusak pula kondisimu dan pandangan manusia terhadapmu. Pendusta akan menggambarkan sesuatu yang tiada seperti ada dan ayang ada seperti tiada. Kebenaran dikatakan sebagai kebatilan, kebatilan dikatakan kebenaran. Kebaikan dikatakan sebagai keburukan dan keburukan dikatakan kebaikan. Akhirnya hakikat sebenarnya tidak mampu ia kenali sebagai akibat atas kedustaannya.


Selanjutnya ia menyampaikan hal itu kepada orang lain yang tertipu dengannya dan sependapat dengannya, sehingga pandangan dan pengetahuannya terhadap sesuatu menjadi tidak benar. Jiwa seorang pendusta akan senantiasa bertentangan dengan hakikat sebenarnya dan mempengaruhinya untuk berbuat bathil. Jika kekuatan pandangan dan pengetahuan yang merupakan sumber segala perbuatan telah rusak, maka rusak pula amal perbuatan yang didasarkan padanya sehingga tidak bermanfaat lisan maupun alam perbuatan.
Karena itulah dusta merupakan pokok kejahatan, sebagaima disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW :

"Sesungguhnya dusta akan mendorong kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan kepada mereka." (Muttafaq Alaih)

Awal dusta bermula dari hawa nafsu, kemudian berpindah ke lisan sehingga merusaknya. Selanjutnya menjalar keseluruh anggota tubuh hingga merusak anggota badannya sebagaimana ia telah merusak ucapannya. Dengan demikian dusta merusak segalanya, baik ucapan, perbuatan dan kondisin ya, hingga tersebarlah kerusakan, penyakitnya akan menjerumuskan nya ke dalam kehancuran jika Allah tidak mengobatinya dengan kejujuran yang mencabut sifat dusta sampai ke akar-akarnya.

Oleh karena itulah, dasar segala perbuatan hati adalah kejujuran, sedangkan lawannya adalah riya', ujub, sombong, takabur, gengsi, malas, takut dan sebagainya yang berpangkal pada sifat dusta. Segala perbuatan, baik yang tampak maupun yang tersebunyi bersumber dari kejujuran. Dan setiap amal buruk yang tampak maupun yang tersembunyi pangkalnya adalah dusta. Allah memberikan sangsi kepada pendusta berupa tidak dapat meraih maslahat dan mafaat.

Dan Dia memberikan pahala kepada orang-orang jujur berupa taufik untuk mendapatkan suatu maslahat dunia dan akhiratnya sebagaimana maslahat dunia akhiratnya.

Allah Berfirman.
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS. At-Taubah : 119)

Allah Berfirman.
"Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal didalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntung yang paling besar". (QS. Al-Maidah : 119)

Allah Berfirman.
"Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih bagi bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih bagi mereka." (QS. Muhammad : 21).

Wallaahu A'lam..!!

Read More..

Terbiasa Membaca Al-Qur'an


Al Quran adalah kitab suci umat Islam yang digunakan sebagai sumber hukum sekaligus tuntunan, pedoman, dan pegangan hidup seluruh umat Islam. Al Quran merupakan petunjuk dan penyelamat kita di dunia maupun di akhirat. Ayat-ayat suci yang terdapat di dalam Al Quran bagaikan puisi-puisi terindah sepanjang masa.Membaca Al Quran merupakan salah satu ibadah yang wajib bagi umat Islam.


Umat Islam yang senantiasa membaca Al Quran ikhlas karena Allah swt maka Allah swt akan melimpahkan rahmat dan ridho-Nya, sehingga ia selalu berada di dalam lindungan Allah swt. Al Quran, memang sebuah petunjuk yang menuntun umat Islam dan menjadi cahaya kehidupan. Selain itu, membaca Al Quran mampu membuat hati seseorang menjadi lebih tenang, karena Al Quran merupakan obat penawar segala macam penyakit, baik rohani maupun jasmani pada diri manusia. Seperti dalam firman Allah swt dalam surat Yunus ayat 57 yang berbunyi: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus:57)
Perintah membaca Al Quran terdapat dalam surat Al Alaq ayat 1-5, yang menjelaskan pentingnya membaca Al Quran. Namun tidak sebatas membacanya saja, melainkan penting pula untuk mempelajarinya, mengkaji lebih dalam, menghayatinya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan dalam hadits menyebutkan bahwa membaca Al Quran akan mendatangkan pahala bagi yang membacanya.

Rasulullah saw bersabda:

“Bacalah kamu akan Al-Quran, sesungguhnya (al-Quran) akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pembaca-pembacanya.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tarmidzi)

Membaca Al Quran perlu diajarkan dan dibiasakan sejak dini. Pada umumnya, anak-anak usia pra sekolah sudah mulai dimasukkan oleh orangtuanya ke suatu lembaga pendidikan islam seperti TPA/TPQ. Di lembaga pendidikan tersebut anak akan diajarkan membaca huruf arab dengan menggunakan buku “Iqro” hingga belajar membaca Juz Amma dan Al Quran. Sedari kecil, umat Islam diharapkan terbiasa dan senantiasa membaca, mencintai, dan menghayati Al Quran.

Namun, peran orangtua dalam membiasakan anak membaca Al Quran juga sangat penting terutama di dalam rumah. Rumah merupakan tempat pertama kali anak mendapat pendidikan, terutama dari orangtuanya. Didikan orangtua di rumah akan terlihat pada pembentukan kepribadian sang anak. Apabila orangtua mengajarkan hal-hal yang baik sesuai syariat agama Islam, maka ajaran atau didikan tersebut akan selalu tertanam pada anak hingga ia beranjak dewasa.

Orang tua, dalam hal ini ayah dan ibu, tidak hanya memerintahkan atau menyuruh sang anak untuk beribadah dan membaca Al Quran. Ayah dan ibu di rumah wajib memberikan contoh teladan. Misalnya saja dengan senantiasa membaca Al Quran di rumah setelah sholat maghrib atau subuh, ataupun di waktu lainnya. Untuk itu, para orangtua juga diharapkan memiliki kesadaran dalam membiasakan membaca Al Quran pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Mungkin bagi yang tidak terbiasa, membaca Al Quran secara rutin akan terasa berat. Namun bila kita berpikir, begitu banyak waktu yang dapat kita habiskan untuk menonton televisi, membaca koran atau majalah, menjelajahi internet, serta kegiatan yang bersifat duniawi lainnya, maka tidak ada salahnya bila seharusnya kita juga dapat meluangkan waktu untuk membaca dan mempelajari Al Quran.

Apabila orangtua sudah membiasakan dirinya membaca Al Quran, maka untuk seterusnya dapat mengajak sang anak untuk membaca bersama, mengajarkannya, dan bertadabur. Memanfaatkan waktu dengan beribadah dengan seluruh anggota keluarga di rumah merupakan saat yang sangat berharga dibandingkan dengan kegiatan lainnya.

Betapa pentingnya membiasakan membaca Al Quran sejak dini. Bila sudah ditanamkan sejak kecil, Insya Allah akan terus menjadi kebiasaan hingga anak beranjak dewasa dan seterusnya. Orangtua pun akan bangga dengan kebiasaan membaca Al Quran pada sang anak. Keadaan rumah pun akan terasa lebih nyaman dengan lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Dan yang terpenting adalah harapan akan rahmat dan ridho Allah swt demi mencapai kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Wallahualam bishshawab.

Read More..

Edited template by TAUSIYAH
ADMINISTRATOR by Muhamad Sunaryo

Powered by Blogger, state-of-the-art semantic personal publishing platform Powered by Blogger, state-of-the-art semantic personal publishing platform